What is in the name

Mungkin maksud Anda adalah: sulistiani wulandari. Kalimat itulah yang akan muncul ketika saya tuliskan nama lengkap saya ke dalam kotak search Google. Sejak pertama kali masuk sekolah, SD,SMP,SMA hingga kuliah, kesalahan pengucapan atau penulisan nama, sudah biasa saya alami. Ketika guru atau dosen mengabsen, kerap kali saya menyampaikan ralat atas pengucapan nama saya yang salah. Sulistiani, dalam bahasa Jawa berarti indah/keindahan, adalah nama yang umum digunakan bagi anak perempuan. Sulihtiani, kata pertama dari dua kata yang membentuk nama saya memang terasa aneh didengar telinga 😉 Tidak heran bila Google mempertanyakan kebenarannya, karena ketidaklazimannya digunakan. Di usia di mana saya mampu dengan benar menuliskan nama lengkap saya, kepada orang tua tidak lupa saya tanyakan arti dari nama itu. Continue reading

Busyro : Naik Kelas dan Khitan

Tidak ada alasan untuk tidak menulis, itu dogma yang sering dilontarkan oleh suami tersayangdi rumah. Tapi apa daya, keinginan menulis kadang harus mengalah oleh kesibukan-kesibukan saya di rumah. Lebih lagi, saya termasuk tipe yang membutuhkan waktu dan ruang yang comfortable untuk menulis, dan itu sangat jarang saya bisa dapatkan. Berbeda dengan membaca, yang bisa dilakukan dalam keadaan yang kurang comfortable sekalipun. Itulah sebabnya, frekuensi saya menulis di blog mungkin tidak bisa menyamai blogger lain yang produktif menulis di blognya. Continue reading

Muslimah Jepang Itu…

Pada suatu hari di Masjid Otsuka, Tokyo, Jepang, selesai mengikuti majelis taklim khusus muslimah, saya bercakap-cakap dengan seorang muslimah Jepang, sebut saja namanya Fulanah. Percakapan kami dimulai dengan pernyataan Fulanah kepada saya : “ Wulan san, saya iri lho kepada saudara-saudara muslimah dari Indonesia, Pakistan, Bangladesh, Malaysia dan negara-negara Islam lainnya. Mereka telah memeluk Islam sejak lahir. Sejak kecil telah diajarkan nilai-nilai Islam. Telah beribadah sepanjang hidupnya. Fasih membaca Al Qur’an. Tentu mereka telah memperoleh pahala yang sangat banyak atas segala ibadah dan amal yang telah dilaksanakannya”. Continue reading

Kami ga nai no ?

Mengenakan jilbab (kerudung ) di Indonesia, bukan merupakan suatu hal yang aneh. Bahkan jilbab sekarang sudah menjadi trend di tanah air, seiring dengan banyak munculnya produsen jilbab dengan berbagai bentuk dan model jilbab.

Berbeda halnya di Jepang, wanita mengenakan jilbab adalah pemandangan langka. Tidak heran setiap bertemu dengan orang Jepang, mata mereka akan agak lebih lama menatap pemandangan ” langka” itu. Kadang-kadang saya ditanya, ” Surilangka jin desu ka ? “..orang Srilangka ya ? 😉 Atau suatu saat, di supermarket, seorang bocah cilik bertanya, ” Atsui janai no ? “…apa gak panas ? serta banyak lagi pertanyaan dan komentar yang ditujukan kepada saya sehubungan dengan jilbab yang saya pakai. Continue reading

Sushi

Ketika tinggal di Jepang, saya berkenalan dengan makanan yang satu ini. Sama seperti kebanyakan orang Indonesia lain ketika mendengar “sushi“, maka yang terbayang adalah ikan mentah hii …Tetapi ketika pertama kali mencicipi sushi di negeri asalnya, sungguh bertolak belakang sekali dengan imajinasi saya sebelum itu. Paduan antara nasi, ikan mentah dan wasabinya, seperti memiliki harmoni tersendiri. Mewakili kebanyakan cita rasa masakan Jepang, yang ringan , sederhana tak banyak berbumbu dan berbentuk indah. Sejak saat itu jadilah saya salah satu orang Indonesia penggemar sushi😉 Continue reading

Wabah Cacar Air

Kalau saya ditanya apa yang paling merepotkan dengan punya anak banyak, maka jawabnya adalah ketika terjadi wabah penyakit di rumah. Wabah penyakit di sini biasanya penyakit-penyakit yang mudah menular akibat kontak fisik. Maklum,it’s impossible untuk menyuruh anak-anak yang sakit berdiam di kamar guna menghindari kontak fisik dengan saudara-saudaranya. Maka, ketika 2 pekan yang lalu, Nana terkena cacar air, saya sudah mempersiapkan diri (fisik, mental, finansial) akan bakal datangnya wabah cacar air di rumah. Sampai-sampai dokter anak langganan juga udah warning …siap-siap bu..anak-anak yang lain mungkin bakal kena juga. Continue reading

Kuse

Kuse, ku dibaca seperti ku pada aku dan se dibaca seperti se pada sewa. Berasal dari bahasa Jepang yang artinya kurang lebih, kebiasaan seseorang yang dibawa dari kecil dan susah dihilangkan. Ini terjemahan bebas saya sendiri sih 😉 Mohon yang ahli bahasa Jepang bisa membetulkan kalau salah.

Kuse bisa bermacam bentuknya,  dilakukan oleh pelakunya secara refleks. Mudah diketahui karena sering dilakukan pada saat-saat tertentu, ketika si pelaku membutuhkan kuse-nya untuk memenuhi kenikmatannya. Kuse sebenarnya bisa dihentikan, bila dilakukan sedini mungkin. Pada bayi contohnya adalah mengisap jempol. Bila tidak dihentikan, kebiasaan ini bisa berlanjut hingga dewasa. Bila merugikan, sebenarnya kuse harus dihentikan. Mengisap jempol misalnya, bisa membuat bentuk ibu jari menjadi berubah, biasanya ujungnya mengecil dan membuat bentuk tulang rahang menjadi agak ke depan alias tonggos. Anak-anak di rumah pun gak luput dari fenomena ini. Continue reading