Belajar Berjiwa Besar

Sekitar tahun 2001-2003, saya sekeluarga masih berada di Saitama, Jepang, dalam rangka mengikuti suami yang tugas belajar di Saitama University. Pada saat itu kebetulan suami sedang diamanahi menjadi Ketua PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) di Jepang, sebuah organisasi yang memwadahi para pelajar/mahasiswa yang sedang belajar di Jepang. Di sela sela kegiatan perkuliahan yang padat, juga kegiatan kegiatan luar kampus , serta 2 orang anak yg sudah terlahir ;)tak kalah tuk meminta perhatian, saya tahu benar bagaimana suami saya berusaha memberikan kemampuannya dengan maksimal untuk menjalankan amanah yang telah diterimanya.

Sebagai organisasi publik, PPI memiliki fasilitas milis (mailing list) sebagai sarana komunikasi antara pengurus dengan anggota, anggota dengan anggota PPI yang tersebar di seluruh penjuru daratan Jepang. Keanggotaan milis ini terbuka, bahkan untuk mahasiswa atau siapa saja yang tertarik akan info info tentang Jepang walaupun mereka tidak berdomisili di Jepang. Di milis, mereka bebas menyampaikan pendapat, usul, opini, kritik, saran, dsb.

Suatu ketika, ada sebuah email di milis yang bernada agak sarkatis, bombastis, sadis dan mengiris :(, intinya email tersebut mengritik kinerja pengurus PPI wa bil khusus suami saya sebagai ketua. Sebagai pendamping hidup sehari hari, yang juga sering diajak berdiskusi, saya tahu benar, segala yang dituduhkan orang tersebut dalam emailnya, sangat tidak benar. Entah mengapa, ada rasa tidak bisa menerima muncul di hati saya setelah membaca email tersebut. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk mengirim email secara pribadi kepada orang yang telah mengirimkan email tersebut. Dalam email tersebut saya tumpahkan kemarahan saya, bagaimana orang tersebut yang tidak tahu apa apa menuduhkan hal yang tidak benar kepada suami saya. Singkat kata, akhirnya si penulis email di email terakhirnya kepada saya menyampaikan permintaan maafnya atas apa yang di tuliskan dalam emailnya.

Ketika suami saya tiba rumah, segera saya ceritakan kejadian tersebut secara lengkap. Tetapi di luar dugaan saya, dia malah mentertawakan saya. Mengatakan betapa sensitifnya saya. Dan membeberkan teori kepemimpinan, bahwa memang seperti itulah resiko menjadi pemimpin, harus siap dikritik atau bahkan dihujat. Justru kritik tersebut dapat menjadi masukan untuk membenahi kinerja pengurus. Karena yang namanya menerima amanah harus dilaksanakan dengan baik agar dapat memuaskan si pemberi amanah. Tidak perlu marah ketika menerima kritik, terima dengan lapang dada, kemudian introspeksi ke dalam. Seorang pemimpin harus berjiwa besar :).

Sejak saat itu,mindset saya terhadap kritik menjadi berubah, walaupun mungkin sebagai wanita, yang namanya emosi kadang tetap maju lebih dulu. Tetapi paling tidak, jangan sampai melakukan tindakan tindakan bodoh yang bukannya memperbaiki keadaan, tetapi malah memperburuknya. Prinsip tersebut fleksibel bukan hanya untuk seorang pemimpin sebuah organisasi saja, tetapi juga kepada diri kita sebagai pribadi. Karena seseorang pada prinsipnya adalah seorang pemimpin, paling tidak pemimpin bagi dirinya sendiri ;).

Advertisements

3 thoughts on “Belajar Berjiwa Besar

  1. iewan September 14, 2011 at 9:08 am Reply

    Beruntung sekali anda mendapatkan suami serperti suami anda, saya yakin suami anda adlah orang terbaik untuk anda, semoga anda, suami dan kelurga anda diberikan kesabaran oleh ALLAH SWT dalam menghadapi setiap hal yg terjadi

  2. wulan May 31, 2013 at 8:41 am Reply

    aamiin…terimakasih 🙂

  3. belonomi June 28, 2015 at 5:02 am Reply

    nampaknya bukan hal mudah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: