Ibu Sudah Tidak Ada

Tulisan ini sebenarnya saya tulis untuk memenuhi ajakan Mbak Asma Nadia di facebooknya, untuk membuat buku tentang pengalaman menghadapi kematian orang yang dicintai. Tetapi, berhubung sudah terlalu lama ngendon di folder document laptop saya, akhirnya saya putuskan untuk mempublishnya di blog.

iluvumom1Kami sekeluarga tinggal di Semarang, kota kecil ibukota Jawa Tengah yang berudara panas. Ayahku adalah seorang pegawai negeri di salah satu instansi Departemen  Keuangan. Ibuku seorang ibu rumah tangga sejati, tinggal di rumah, mengurus rumah dan anak-anak. Saat itu aku adalah anak ketiga dari 3 bersaudara. 2 orang kakak laki-lakiku, yang seorang 1 tahun dan seorang lagi 3 tahun lebih tua dariku. Kami adalah keluarga yang bahagia.

Ibuku hanya seorang lulusan SLTA. Beliau adalah mantan pegawai RRI yang segera berhenti  bekerja setelah menikah. Menjahit dan memasak adalah hobinya. Waktu-waktu luangnya di rumah digunakannya dengan mengikuti kursus masak dan menjahit.  Baju-baju miliknya dan kami anak-anaknya sebagian besar adalah buah tangannya. Di saat-saat tertentu kue-kue kering dan  cake hasil olahannya terhidang di atas meja makan kami. Ibu juga yang mengantar anak-anaknya ke sekolah, mengajariku baca tulis dan membimbing kakak-kakakku belajar.

Masih terang dalam ingatanku, senyum gembiranya mengembang ketika pertama kali Ibu bisa menaiki motor Yamaha bebek berwarna merahnya. Sejak saat itu kami bertiga, sering dibonceng ibu ke mana-mana. Setiap pagi dan siang, dengan setia Ibu mengantar dan menjemput kami anak-anaknya ke sekolah. Pernah suatu saat, ketika mendadak aku harus mengikuti lomba senam di TK, menggantikan teman yang sakit, aku dan Ibu harus pontang-panting mencari seragam senam yang susah didapat di sembarang toko. Dengan dibonceng di atas motornya, akhirnya kami menemukan seragam yang dicari …pyuh lega sekali rasanya.

Hingga suatu saat, kondisi kesehatan ibuku tidak menentu. Ketika itu aku kurang lebih berumur 5 tahun. Ibu mulai sering bolak balik ke rumah sakit. Aku tidak paham penyakit apa yang diderita ibu. Mungkin karena aku masih begitu kecil, sehingga tidak ada orang di rumah yang mau memberitahukan penyakit ibu. Kadang-kadang ibu harus menginap di rumah sakit, aku hanya bisa bertemu ketika diajak ayah membesuk ibu. Badan ibu makin kurus, rambutnya mulai rontok, kulitnya agak menghitam.

Ketika berada di rumah, ibu banyak berbaring di tempat tidur. Tubuhnya semakin kurus, hingga tinggal tulang berbalut kulit. Bau yang kurang sedap samar-samar tercium dari kamarnya. Kalau hendak ke kamar mandi beliau harus dipapah. Kadang-kadang beliau juga pingsan, sehingga harus segera diciumkan wewangian untuk membuatnya sadar. Aku mengamati semua hal ini dan tak mengerti, apa sebenarnya yang sedang menimpa ibuku.

Saat itu aku berusia 7 tahun, baru saja menginjak kelas 1 SD. Ibu untuk kesekian kalinya kembali dirawat di rumah sakit. Untunglah di rumah ada bibiku, saudara sepupu ayah yang menemani dan melayani semua kebutuhanku dan kakak-kakakku. Suatu sore, ketika aku bersama teman-temanku sedang berada di masjid, menjelang maghrib, tiba-tiba bibiku datang dan mengajakku pulang ke rumah. Tidak ada penjelasan, hanya kata-kata harus segera pulang. Di rumah sudah ramai banyak orang, tetangga berdatangan, kursi-kursi  diatur, tenda dipasang. Di samping rumah didirikan bangku panjang dari bambu, di sebelahnya ada 2 drum besar berisi air yang diberi bunga. Semakin malam, semakin banyak tamu yang datang. Keluarga yang tinggal di Semarang satu persatu hadir, memelukku, yang masih belum mengerti apa yang terjadi.

Menjelang tengah malam, keheningan malam dipecahkan dengan suara sirene ambulans. Dan ambulans itu berhenti tepat di depan rumahku. Beberapa orang masuk ke dalam mobil, kemudian keluar sambil menggotong sesosok tubuh yang tertutup selimut putih. Di ruang tamu berkarpet, telah tergelar sehelai tikar dialasi kain batik yang sekelilingnya ditaburi bunga dan diberi wewangian, kemudian sesosok tubuh itu perlahan-lahan diletakkan di atasnya. Ayahku masih belum berada di rumah. Aku tidak bisa tidur karena banyaknya orang yang ada di rumah. Pertanyaan besar menggaung dalam hatiku, siapa sesosok tubuh yang diletakkan di atas kain batik itu?

Tidak lama kemudian ayah sampai di rumah bersama beberapa orang di mobil. Setelah berpelukan dengan saudara saudara dan tetangga yang hadir, ayah mengajak kami, ketiga anak-anaknya ke dalam kamar, lalu beliau berbicara “ Ibu sudah meninggal, ibu sudah tidak ada” Kemudian ayah menggandeng kami ke ruang tengah, duduk di samping sesosok tubuh tertutup kain putih itu. Perlahan dibukanya selimut putih yang menutup bagian kepala, tampak wajah ibuku. Ibuku seperti sedang tidur, matanya terpejam, wajahnya putih pucat, mulutnya terkatup. Apakah maksud perkataan ayah bahwa ibu meninggal, ibu sudah tidak ada ? Bukankah ibu masih ada dan sedang tertidur di hadapan kami? Sambil mendengar orang yang mengaji di ruang tamu, malam itu aku tidur masih dengan sejuta tanya di benakku, sebenarnya apa yang terjadi dengan ibuku.

Bangun pagi, di rumah masih banyak orang, saudara-saudara dari luar kota turut berdatangan. Seorang bibiku yang tinggal di Denpasar, Bali, memelukku erat sambil meneteskan air mata. Mengapa semua orang bersedih ? Kursi-kursi di luar rumah semakin dipenuhi banyak orang, teman-teman sekantor ayah yang aku kenal baik pun hadir. Hari ini aku tidak sekolah, begitu pula kedua kakakku. Tiba-tiba namaku dipanggil ayah, kemudian ayah mengajakku menuju deretan kursi di luar rumah, ada wajah yang sangat kukenal di sana, ternyata adalah guru kelasku ! Beliau segera memelukku, membisikkan kata-kata, yang tidak begitu aku dengar, kemudian beliau berbincang-bincang dengan ayah. Mengapa semua orang hadir di rumahku? Mengapa Bu Guruku tidak mengajar di kelas? Mengapa saudara-saudaraku bersamaan datang mengunjungi rumahku? Sejuta pertanyaan yang ingin kuteriakkan, tetapi orang-orang sepertinya sibuk mempersiapkan sesuatu yang tidak aku mengerti.

Menjelang siang, ayah kembali mengajak aku dan kakak-kakakku mendekati tubuh ibuku yang masih terbaring di ruang tamu. Dibukanya tutup yang menutupi wajah ibuku, tubuh ibu telah dipakaikan baju putih, ayah menyuruhku mencium wajah ibuku, kucium pipi kanan kiri ibuku. Kulitnya terasa dingin menyentuh bibirku. Mengapa ibu belum bangun padahal hari telah siang?

Tidak lama kemudian tubuh ibuku dimasukkan ke dalam sebuah usungan. Usungan itu kemudian ditutup dengan selembar kain hijau yang bertuliskan tulisan arab. Di luar ada seorang yang berbicara memakai pengeras suara, ternyata adalah pamanku, adik ayahku. Selesai pamanku berbicara beberapa orang saudaraku mengangkat usungan dan perlahan-lahan berjalan membawanya keluar rumah. Bibiku mengajak aku dan kakak-kakakku menuju usungan itu, kemudian dengan merunduk kami dibimbing bibi berjalan di bawah usungan di mana tubuh ibuku diletakkan tadi. 3 kali kami harus melakukan itu. Tentu saja dengan tambahan pertanyaan yang semakin memadati pikiranku.

Perlahan-lahan saudara-saudaraku yang menggotong usungan tadi berjalan meninggalkan rumah kami diikuti ayah, saudara-saudara yang lain serta tamu-tamu yang kebanyakan adalah laki-laki. Aku masih berdiri bersama bibiku. “Bi, Ibu mau dibawa ke mana?” tanyaku. “Ibu mau dibawa ke masjid, dik, habis itu akan dikuburkan di kuburan kampung kita’, jawab Bibi.

Kuburan. Tiba-tiba seperti ada kilat yang lewat di depan mataku setelah mendengar kata itu diucapkan bibiku.Kuburan, kami sangat mengenal tempat ini. Sering aku lewati ketika berangkat sekolah. Kata orang, yang tinggal di kuburan itu orang-orang yang tidur dan tidak bangun-bangun lagi. Kuburan itu akan menjadi tempat tinggalnya. Tidak bersama lagi dengan keluarganya. Dan ibuku akan menjadi salah satu orang yang tinggal di sana. Tidak bersama-sama kami lagi di rumah. Kesadaran itu menyentakkan hatiku. Menjawab semua pertanyaan yang kupendam sejak hari sebelumnya. Perlahan air mataku menetes, dan mulutku memanggil dengan lirih.. ‘Ibu’.. dan tiba-tiba seperti  air bah yang tidak bisa terbendung, tangis kerasku memecahkan keheningan suasana. Bibiku segera memelukku, pandangan semua orang tertuju kepadaku, pandangan iba dan sedih. Tapi usungan yang berisi tubuh ibuku itu tetap digotong menuju arah masjid dan kuburan.  Beberapa bibiku yang lain segera menghampiriku, membawaku ke dalam rumah, membujuk dan menghiburku.

ripDi masa dewasaku, barulah kutahu. Ibuku menderita kanker serviks, kanker leher rahim. Penyakit menakutkan yang menjadi momok bagi kaum wanita. Ibuku harus menjalani terapi dan radiasi yang membuat rambutnya rontok dan menghitamkan kulit putihnya. Dan ketika tubuh ringkihnya tidak dapat lagi bertahan, maka beliaupun menyerah kepada takdir Nya, meninggalkan kami, suami dan ketiga orang anak yang dicintainya. Tak banyak yang terekam dalam memoriku kenangan bersama ibuku, karena saat itu aku masih seorang anak kecil, tetapi kenangan saat kematian ibuku adalah kenangan yang kuat melekat di benakku. Pada saat itu pertama kali aku paham akan hakikat kematian, yang selanjutnya akan banyak terjadi dalam kehidupanku, kematian orang-orang yang kucintai.

Advertisements

16 thoughts on “Ibu Sudah Tidak Ada

  1. Tatas Wicaksono February 13, 2009 at 6:04 am Reply

    Ternyata sejak kecil bu wulan sudah ditinggalkan ibunda.
    Saya sampe “diem” banget bu bacanya..:)

    Semoga saya dan teman2 yg masih memiliki ibu, bisa memanfaatkan waktu yg ada untuk berbakti sebaik-baiknya kepada beliau..

    cukuplah dengan menyenangkan hatinya, apapun caranya..:)

  2. Kenalan ama Umi-Irsyad February 23, 2009 at 7:28 pm Reply

    Lam kenal bu, aku kok jadi ingat waktu ibuku meninggal saat aku lulus SMP yah 1988. Mbakku juga ada yang tinggal di Gunung Rante dan Jomblang Sari bu, Salut buat perjuangannya, salut juga buat mas RSW, kenalkan sama dia? 😀

  3. Via March 3, 2009 at 1:07 pm Reply

    Cudn’t say anything…
    sedih banget bu bacanya… jadi inget mamah 😦

  4. dewi March 13, 2009 at 4:20 pm Reply

    inna lillahi wa inna ilaihi roji’un(T_T)

    jadi inget bapak dewi mba, yang meninggal setahun yll hiks hiks sedih banget ya ditinggalin orang yang dicinta…

    salut buat mba wulan!! two thumbs up !!

  5. freztstep March 20, 2009 at 12:26 am Reply

    aq pernah denger sesuatu yg intinya adalah “ibu itu berhak diberi bakti 3 kali lipat dibanding ayah”. Orang awam mengatakan, “ya iyalah ibu kan yang ini itu”… tapi utk orang yg pernah ditinggalkan akan benar2 menginsafinya… jgn lupa doakan ibu ya mbak(mengingatkan diri sendiri)…

    semangat ya mbak… surga itu memang ad ditelapak kaki ibu… tapi kita tidak dilarang utk membuat surga kita sendiri…
    semoga sukses

  6. madarmawan alias freztstep March 20, 2009 at 12:32 am Reply

    oya mampir ke blogQ ya di madarmawan.wordpress.com

    btw ni umurnya berapa mbak ? kayanya sampean dah ibu2… hehe jadi tak ralat manggilnya ibu aja

  7. putri April 1, 2009 at 11:48 pm Reply

    makasih Lan..aq bangga pernah kenal kamu wkt kuliah, dulu qta gak bgtu dekat..tp stlh bc tulisanmu..aq spt sangat kenal dirimu..mugkin krn qta sm2 pernah ditinggal ol org yg sangat qta cintai…sedih..knp cm sebentar aq merasakan ksh syng beliau….

  8. Pertanyaan April 5, 2009 at 7:52 am Reply

    Salam kenal dari pertanyaan.com, sebuah media tanya jawab online, kamu bisa bertanya berbagai macam hal dan berbagi ilmu disini, dan aq rasa tidak ada ruginya bagi kamu untuk memberi blogroll buat penyebaran web ini … Thanks and yuk berbagi ilmu disini

  9. wiwies April 15, 2009 at 12:02 pm Reply

    rasanya saya saya inget, saat itu masih tinggal di jalan jeruk ya?

  10. santi June 4, 2009 at 8:33 am Reply

    thanks atas sharingnya mbak….
    Mama saya juga sudah meninggal tahun 2002 lalu…

  11. ida July 26, 2009 at 8:47 pm Reply

    astaghfirullah…………….
    sy tak bisa berkata banyak
    terima kasih bu wulan atas sharing kisahnya
    ya Allah,,,,,,,,,,

  12. guruiler August 17, 2009 at 10:45 pm Reply

    Kalau saya ditinggal Bapak, sudah kuliah di Yogya, sehabis KKN. Idulfitri tanggal 11. Yang aneh adalah…. Aku tahu Bapak meninggal stelah 3 hari pemakamannya, karena…. orang lupa mengabari aku dan telegram terlambat… andai saat tiu aku sudah sering online ya….

  13. zuhro_ September 3, 2009 at 6:58 pm Reply

    hm,, bersyukur ibu masih dapat melihat wajahnya.. kl sy di usia 3 th, gagal ginjal, ga paham, hehe..

  14. islam March 8, 2010 at 11:50 am Reply

    sungguh..Allah menyayangi Ibumu…wallahu’alam

    ..dari malaysia

  15. Mega March 22, 2010 at 7:13 pm Reply

    Bu wulan..two thumb2 for u..
    Ibu ku jg meninggal 8bln
    lalu akibat diabetes yg menjadi komplikasi ginjal..
    Msh teringat jls smua nya..Ibu meninngal smnggu sblm aq sidang skiripsi
    Usia ku skrg 21thn,anak tunggal..

    Smoga aq bs sprti bu wulan,,yg slalu tabah 😉

    I lv u mom..

  16. ADi December 1, 2010 at 11:40 am Reply

    Ibunya namanya siapa ya..? kok nggak disebutin…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: