Enak di mana ?

Setelah 7 tahun mendampingi suami studi di Jepang, tahun 2004 akhirnya kami sekeluarga kembali ke tanah air, membawa segala kenangan yang indah maupun sebaliknya, suka duka perjalanan hidup kami selama di Jepang. Sekian lama tinggal di negeri Sakura, negeri Matahari Terbit, salah satu pertanyaan yang sering dilontarkan oleh relasi, teman, saudara adalah : enakan mana mbak? di Jepang atau Indonesia ? Hmmm … pertanyaan yang sulit. Jepang dan Indonesia adalah 2 negara yang memiliki banyak sekali perbedaan. Musim, adat istiadat, makanan, karakter manusia, dll. Saya akan coba menjawabnya di sini dengan membaginya menjadi 2 bagian, enak dan tidak enaknya tinggal di Jepang..

Enaknya tinggal di Jepang

Bersih. Kesan pertama ketika menginjakkan kaki di Jepang, adalah bersih. Tidak ada sampah berserakan. Tong sampah disediakan hampir setiap 50 – 100 meter di sepanjang jalan. Sampah dipilah berdasaran beberapa kriteria, sampah dapur, sampah plastik, dll. Bahkan di supermarket di sediakan tong-tong sampah untuk berbagai jenis sampah, termasuk sampah kaleng minuman, styrofoam pembungkus makanan, koran/majalah, dll. Jadwal pembuangan sampah rumah tangga disusun sedemikian rupa hingga sampah tidak saling bercampur. Senin-kamis untuk sampah dapur. Selasa-Jumat untuk sampah kaleng, gelas, pet botol, yang bisa di daur ulang.

 Jangan sampai salah hari, karena sampah anda tidak akan diangkat oleh petugas sampah 😉 Tidak ada sampah yang mengotori sungai. Saluran air lancar, tidak tersumbat sampah. Nyaman sekali rasanya tinggal di lingkungan yang bersih.

Moda transportasi utama di negara ini adalah kereta api listrik. Hampir di setiap kecamatan memiliki stasiun kereta api. Kereta api datang tepat waktu, jarang sekali terlambat, kecuali ada kasus-kasus tertentu. Bus yang hilir mudik di jalan-jalan kota adalah bus yang mengantar penumpangnya dari stasiun kereta satu ke stasiun kereta berikutnya. Berhenti secara teratur, sesuai jadwal di setiap halte bus yang dilaluinya.

Alat transportasi yang banyak digunakan,terutama untuk jarak dekat adalah sepeda. Saya sempat dibuat tertawa ketika melihat seorang bapak-bapak berpakaian jas lengkap berdasi tetapi mengendarai sepeda menuju stasiun :DTidak heran bila di setiap supermarket, kampus, kantor, dll selalu disediakan tempat parkir khusus sepeda. Udara jauh dari polusi asap kendaraan bermotor. Tidak ada kemacetan. Tidak terdengar pula suara klakson mobil.

Disiplin.Orang Jepang memiliki karakter disiplin. Malu bila melanggar peraturan, bahkan peraturan yang tidak tertulis sekalipun, termasuk norma masyarakat. Segala sesuatu urusan, secara otomatis mereka selalu membentuk antrian. Di supermarket, di kantor kecamatan, di stasiun kereta api, dll. Naik eskalator, antrian berada di sebelah kiri, sebelah kanan diperuntukkan bagi mereka yang terburu-buru, hingga harus tetap berjalan di eskalator. Kehidupan terasa lebih teratur, tidak ada yang dirugikan karena tidak ada yang saling serobot. Asas keadilan sangat dijunjung, bahkan buat saya, orang asing yang numpang tinggal di sana. 🙂

Clean goverment. Mengurus KTP (orang asing yg tinggal lama di jepang juga harus mempunyai KTP) sangat mudah, tidak ada istilah “uang pelicin”. Segala sesuatu yang memerlukan birokrasi, sangat dipermudah. Seorang anggota pemerintahan yang terkena skandal suap atau penggelapan pajak akan menerima sangsi yang sangat berat. Bahkan tidak jarang pula yang sampai bunuh diri karenanya 😦

Tidak enaknya tinggal di Jepang

4 musim. Terbiasa dengan 2 musim, suhu udara yang tidak terlalu berubah sepanjang tahun di Indonesia, membuat saya sedikit kerepotan beradaptasi dengan perubahan iklim dan cuaca 4 musim. Dengan berubahnya musim, maka berubah pula assesoris rumah tangga, ketika musim panas tiba karpet-karpet digulung, pemanas ruangan disimpan, baju-baju tebal ditumpuk rapi di kontainer, baju-baju yg lebih tipis dikeluarkan. Selimut-selimut tebal dilipat, selimut tipis dikeluarkan, topi wool dan sarung tangan disimpan, payung musim panas disiapkan. Begitu pula sebaliknya ketika musim dingin tiba.

Yang paling merepotkan adalah ketika akan bepergian di musim dingin. Ketika suhu udara sangat rendah, paling tidak 3 lapis pakaian harus dipakai. Memakaikan 3 lapis pakaian kepada (3 orang) anak-anak tidaklah mudah, bagi mereka pun sangat tidak nyaman. Persiapan menjelang keberangkatan, bisa menjadi ajang adu urat syaraf antara saya dan anak-anak 😉

Di Jepang sering terjadi gempa dan badai angin topan (taifu). Selama masa tinggal kami di sana, Alhamdulillah tidak terjadi gempa dengan kekuatan besar, yang sering adalah gempa berkekuatan kecil , yang membuat lampu gantung di langit-langit sedikit bergoyang. Taifu, bergantian “mengunjungi” Jepang menjelang musim gugur. Saking banyaknya, diidentifikasi dengan penomoran. Jadi ada taifu no 1, no 2 dst.

Datangnya taifu dan juga badai salju di musim dingin, kadang melumpuhkan aktivitas di seluruh Jepang. Pada saat itu sekolah-sekolah dan perkantoran diliburkan. Alhamdulillah, saya  (dan kita semua …tentunya) sangat merasa bersyukur bisa tinggal di Indonesia. Dengan 2 musimnya sepanjang tahun. Dengan hanya 2 musim ini, sudah seharusnya kita menjadi bangsa yang lebih produktif bukan ? 😉

Nihonggo. Bahasa Jepang. Berbeda dengan bahasa Inggris, bahasa Jepang memiliki 3 komponen yang harus dikuasai bagi yang mempelajarinya. Menulis huruf, membacanya dan artinya. Selain itu ada 3 jenis huruf dalam bahasa Jepang : hiragana, katakana dan kanji. Suami saya, yang dulu adalah mahasiswa yang menggunakan pengantar bahasa Jepang di perkuliahannya, membutuhkan waktu belajar bahasa Jepang intensif selama 1 1/2 tahun. 6 bulan di Indonesia dan 1 tahun di Jepang, itupun masih belum cukup katanya 😉

Orang Jepang kurang begitu familiar dengan bahasa Inggris. Bahasa Inggris yang dipakai pun tidak diucapkan dan ditulis sesuai dengan bahasa aslinya, tetapi dengan ” di -Jepang ” kan. Misalnya kata “love” akan dituliskan dalam huruf katakana dan diucapkan dengan lafal ” rabu”, karena dalam bahasa Jepang tidak dikenal huruf l dan v. Jadi bagi anda yang mahir berbahasa Inggris, siap-siap untuk menelan pil pahit ketika mengajak ngobrol orang Jepang dengan bahasa Inggris. Tips terbaik bagi yang akan belajar atau bekerja di Jepang adalah : Pelajari Bahasa Jepang !! 😉

Karena tidak pernah mengikuti kursus bahasa Jepang sebelumnya, waktu-waktu luang saya di rumah (sambil nunggu suami pulang dari kampus gituh..) saya gunakan untuk mempelajari bahasa Jepang. Menggunakan buku-buku pelajaran bahasa Jepang suami, saya buat kartu-kartu yang saya tuliskan satu persatu huruf hiragana dan katakana. Saya hafalkan cara menulisnya & menghafal kosa katanya. Kalau banyak teman-teman yang mengakses channel TV program Internasional berbahasa Inggris, saya justru menonton channel tv lokal yang berbahasa Jepang, sehingga telinga  saya familiar dengan ucapan, frase dan kosa katanya. Untuk huruf kanji, saya lebih memilih metode menghafal perhurufnya, karena untuk menghafal cara menulisnya … susyah 😀 Huruf Kanji ada kurang lebih 1000 huruf lho. Tidak lupa saya sangat banyak memperoleh bantuan dari suami tersayang, yang sangat mensupport saya untuk menguasai bahasa Jepang, walaupun kadang2 terkesan “tega” banget ;)Alhamdulillah, kemampuan bahasa Jepang saya meningkat, sehingga untuk urusan ke dokter, ke sekolah anak-anak maupun urusan-urusan rumah tangga lainnya tidak lagi tergantung kepada suami.

Makanan. Sebenarnya masakan Jepang termasuk masakan yang bisa dinikmati oleh semua orang. Bumbu-bumbunya tidak terlalu kental, pengolahannya sederhana, bahan-bahan yang dipakai juga tidak “nganeh-anehi”. Tetapi bagi kaum Muslim, harus berhati-hati bila hendak menyantap masakan Jepang yang banyak ditawarkan di warung makan, restoran atau yang dijual di Supermarket. Bangsa Jepang penyuka daging babi. Tidak hanya berupa daging, lemak dan organ-organ tubuh lainnya pun dimanfaatkan dalam pengolahan makanan. Daging sapi, ayam, dll tidak disembelih berdasarkan syariat Islam. Alhamdulillah, banyak toko-toko halal (Halal Food) yang dikelola orang Muslim (kebanyakan dari Pakistan dan Bangladesh) yang menyediakan daging dan makanan halal. Sebagian besar orang Jepang penyuka minuman keras, yang terkenal adalah sake. Tidak hanya untuk diminum, tapi juga dimasukkan ke dalam masakan sebagai pelengkap bumbu masakan.

Makanan atau masakan Jepang yang dapat dikonsumsi kaum Muslim pada umumnya yang berasal dari olahan produk laut, seperti ikan, udang, cumi , dll. Dengan catatan, bumbu yang digunakan bebas dari bahan yang haram, misalnya sake (arak beras), mirin (arak merah), dll. Ketika ingin membeli produk makanan Jepang, harus diteliti terlebih dahulu genzairyo (ingridient/kandungan bahan) dalam makanan. Yang kesulitan membaca huruf Jepang, Islamic Centre di Jepang biasanya mengeluarkan list haram (Haram list) dalam huruf Jepang. Serta mengeluarkan pula list makanan halal (Halal list), produk makanan yang aman untuk dikonsumsi dengan terlebih dahulu mengadakan survey ke produsen.

Hikmah yang saya dapatkan dengan sulitnya mencari makanan halal di Jepang, saya menjadi rajin memasak 🙂 Penyakit paling parah yang menghinggapi setiap orang yang tinggal di luar negeri adalah kangen dengan masakan/jajanan tanah air 😉 Bakso, siomay, bubur ayam, lontong sayur, dll, membuat mimpi malam saya ketika ngidam di kehamilan pertama adalah bermimpi makan di tempat-tempat jajanan favorit saya 😉 Akhirnya mau tidak mau harus memasak sendiri, bahkan berawal dari situ, saya sering mendapat pesanan untuk memasak masakan Indonesia dari teman-teman yang lain 🙂

Sesungguhnya kehidupan ini akan lebih bermakna ketika dapat mengambil hikmah dari kesulitan-kesulitan hidup yang kita alami. Lebih dari itu apabila kita dapat mensyukurinya. Karena sebenarnya suatu kesulitan, cobaan, musibah itu juga merupakan suatu nikmat dari Allah SWT agar hamba-hamba Nya dapat menjadi hamba yang bersyukur. Ingat selalu janji Allah SWT :

” Dan ingatlah juga, tatkala Tuhanmu mema’lumkan : ” Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab Ku sangat pedih ” (QS Ibrahim : 7)

Advertisements

29 thoughts on “Enak di mana ?

  1. edratna October 20, 2008 at 6:56 pm Reply

    Justru karena empat musim, mereka harus mengelola waktu, mencari uang, kalau nggak ingin kelaparan dan kedinginan di musim dingin, dan hujan salju.

    Sedang dinegara 2 musim, kalau malas, tidur di bawah pohon pun bisa, mengemispun bisa makan, malah kadang hasilnya melebihi orang yang kerja keras seperti tukang ojek, sopir bajaj dsb nya.

    Tapi kita tak boleh menyerah…. karena masih banyak yang bersifat baik dibanding yang jelek.

  2. ummurifqi October 21, 2008 at 6:47 am Reply

    Sekarang tinggal dimana um?

    Buat pengalaman…asyik juga ya….

  3. dr. Didi K, SpOG October 21, 2008 at 11:18 pm Reply

    Enak di Indo ya mbak wulan, sesuai pepatah lah…

  4. sweetstrawberry October 22, 2008 at 6:14 am Reply

    Membaca/ melihat pengalaman dari teman2 blogger dan kakak sepupu saya yg tinggal di negeri org, membuat berpikir… Di Indonesia sendiri sebenarnya enak, dan sungguh kita seharusnya bersyukur terlahir sbg org indonesia.. Walaupun jg banyak kekurangan disana-sini yg selayaknya dibenahin. Masakan Indonesia kaya akan bumbu, lebih terasa nikmat dan tidak hambar.. ya, khan Bu?
    Namun menyenangkan sekali bisa mendapatkan pengalaman baru dg merasakan tinggal di luar negeri. ^^ Melatih kita untuk beradaptasi, mempelajari kebudayaan yg unik, dan mengambil hal2 yg baik untuk ditiru.
    Palagi tinggal di Jepang… menyaksikan bunga2 sakura bermekaran.. 😉

  5. wulan October 22, 2008 at 10:47 am Reply

    #edratna : betul bu, mereka berusaha keras untuk survive. Sebenarnya kita di Indonesia termasuk yang “dimanjakan” oleh alam, sampai kadang-kadang kita terlena karenanya 😉

    #ummurifqi : sekarang di pondok gede Bekasi, Um. Betul sekali, pengalaman hidup yang tidak terlupakan.

    #dr. Didi K, SpOG : Lebih enak hujan emas di negeri sendiri, dibanding hujan emas di negeri orang ya dok 🙂

    #sweetstrawberry : Betul sekali dik Atik. Makanya ketika saya ditanya enak di mana? susah menjawabnya. Pada prinsipnya di mana pun kita tinggal, sudah semestinya kita bisa survive. Di mana bumi berpijak, di situ langit dijunjung. Dan tidak lupa selalu bersyukur atas nikmat Nya di mana pun kita berada…terutama di Indonesia tercinta ini 😉
    Bunga sakura…. salah satu kenangan yang indah juga, tapi di Jepang nggak ada daun pepaya & daun singkong kesukaan saya 😀

  6. Tatas Wicaksono October 23, 2008 at 3:52 pm Reply

    hahaha, belajar bahasa jepang yak..
    sempet sebel banget ma 2 orang temen saya yang kuliah di sastra jepang n baru pulang jg dari sono. Mereka tuh kalo pas ngumpul malah pakek bahasa jepang sendiri, lha saya kan jadi gak nyambung, “ngomong opo tho kuwi??”..

    But, semua bangsa memiliki sisi baik dan buruk, dan yang terbaik bagi kita adalah mengambil sisi baiknya… tak ada salahnya bila kita mencontoh..

    Hidup di manapun saja bisa menyenangkan asalkan kita bisa menciptakan suasana yang pas buat kita sendiri, lebih2 buat orang lain.. gak asal ngikut… ngikut yang baek2 aja deh..:D

    makacih ya bu,pengalamannya sudah dishare ma kita2.. 😀

  7. Rahma November 1, 2008 at 2:55 pm Reply

    Artikel bagus sampai hari ini tentang pendapat tinggal di jepang, cocok untuk kami2 yang pengen kesana 😀

  8. kabarmadura November 4, 2008 at 12:49 am Reply

    ijinkan aku untuk mendapatkan dia .. ya dia wanita sastra jepang itu …

    smoga ini pilihan terbaikNYA

    trima kasih atas inspirasinya bu …. 🙂
    peace

  9. Abahnurul November 6, 2008 at 3:04 pm Reply

    Seneng ya … banyak jalan …banyak diliat… jadi banyak ilmu juga…

    Sisi lain, ternyata ketiadaan melahirkan keistimewaan ya… daun singkong… ugh di Ciganjur mah sering ditolak-tolak… he..he..

  10. amaliasolicha November 8, 2008 at 5:32 pm Reply

    ternyata benar, hidup dimanapun tetap harus bersyukur ya mb, all things are possible *jd kek Obama :mrgreen: ,, mm.. sy jadi pengen ke jepang mb ^^, salam kenal ya mb.. 🙂

  11. Tary Thewlis November 17, 2008 at 4:24 am Reply

    Kalau ditanya enak mana? Pastinya asal kita selalu bersama dengan orang-orang yang kita cintai, tinggal dimana saja juga enak, ya nggak … hehehe ^_^
    Wah, blogmu memang sebuah inspirasi, biarpun jarang kasih komentar, aku ikuti terus lho update-mu!

  12. rayzq November 21, 2008 at 12:05 am Reply

    Y, saya sangat setuju dengan pendapat Bu Edratna. 🙂
    Sesuai dengan pendapat kakek saya.
    Semoga suatu saat bisa mampir ke Jepang. Amin…

  13. Hejis December 3, 2008 at 3:28 pm Reply

    Semoga masnya cepet selesai studinya. Salam kenal, mbak.

  14. ardy December 12, 2008 at 1:33 pm Reply

    wah…jepang!, mbak, keponakanku baru aja brgkt ke jepang oktober kemaren. alhamdulillah bisa ikut program politeknya UI. dan saat ini aku dan keluarga kangen berat…
    dari cerita mbak, sy jadi semakin penasaran…kata tetangga sih yg buat kangen emang masakan indonesia, bahkan ada juga yg minta dikirimi daun singkong dg dikeringkan lalu dipaketkan…makasih share-nya…salam kenal

  15. Tatas Wicaksono December 17, 2008 at 7:21 am Reply

    lama banget gak OL bu?! (memang bener2 ibu rumah tangga yg super sibuk) 😀

    Coba deh aq bayangin kerjaan tiap hari dengan 5 putra – putrinya belum lagi dengan yg masih di peyut….wekeke, pucink..:D

  16. lely January 1, 2009 at 2:06 pm Reply

    wah, menarik sekali artikelnya, jadi inget dulu pernah pengen banget ke Jepang, sekarang masih pengen c, tp udh g se-pengen dulu. 😀

  17. little_lover January 5, 2009 at 12:44 am Reply

    Pengen banget nyobain masakan jepang. (yang halal tentunya)..
    Kalo di sini masakan jepang mahal-mahal…

  18. Alexhappy January 9, 2009 at 3:34 pm Reply

    lain di jepang lain di ina……

    salam kenal mbak… 🙂

  19. wulan January 14, 2009 at 5:10 pm Reply

    ummi……blogwalking nih….ternyata nemu yang namanya sama……salam kenal ya..

  20. Tatas Wicaksono January 21, 2009 at 11:52 am Reply

    Sudah berapa bulan bu kandungannya?? 😉

    Semoga sehat selalu n lancar nantinya ..

  21. aryu February 1, 2009 at 11:15 pm Reply

    Assalamualaikum… ummi.. salam kenal.. 🙂 senangnya tinggal di Jepang.. aryu juga pengen tinggal beberapa tahun di Jepang.. 😀 doakan ya ummi

  22. Kenalan ama Umi-Irsyad February 23, 2009 at 7:49 pm Reply

    Yah, pengalaman hidup untuk meningkatkan kualitas dan pendewasaan hidup ya bu, salut perjuangannya di Jepang, masih main ke SMG kan bu? Ternyata manusia penuh dengan budaya dan perilaku. Andai tamu manca harus bisa berbhs Indonesia, maka kita akan lebih dihormati kayaknya ya bu… 😀 Lam kenal dari Azi-Muna-Ata-Jundi buat ke-5 hampir-enam putranya bu, juga mas RSW dari Kendal.

  23. salam revolusi February 24, 2009 at 10:33 pm Reply

    yang pasti masih sama-sama di bumi Allah. semua tempat pasti memiliki hikmah berbeda, iya kan umm?

  24. putri April 2, 2009 at 12:09 am Reply

    eh.iya..asyik..baca tulisan wulan..mas zen pernah punya rencana ngajk aq sm anak2 ngrasain hidup di negri org.. aq sempat menolak krn ga pede..tp stlh bc blok wulan aq jd pengen mewujudkan renc mas zen.. wallahu’alam…

  25. D e n n i e December 22, 2009 at 8:14 pm Reply

    Tulisan anda bagus banget. Semoga indonesia bisa seperti jepang

  26. Maydina Zakiah S February 11, 2012 at 1:44 am Reply

    ibu… nice artikel… jadi ada gambaran jikalau ada kesempatan ke sana… Btw kalo studi di sana tantangan apa bu?

    • wulan February 12, 2012 at 8:31 am Reply

      Thanks May. wah klo studi aku kurang tahu May, paling gak Bahasa udh pasti ya, mungkin kultur pembelajaran jg ya, yg lain coba tanya yg pernah kuliah di sana 🙂

  27. Mobile Bank and Payment Security - Apr 19 . February 24, 2012 at 5:56 pm Reply

    Ya dan aku sudah berusaha dan hasilnya adalah saat ini setiap hari sepulang sekolah aku mampir ke rumahnya.

  28. ummu daffa January 20, 2014 at 3:48 pm Reply

    nice post ummi..perkenalkan saya ummu daffa 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: